Wednesday, March 30, 2011

Test Ride Minerva Sachs GTR 170

Test Ride Minerva Sachs GTR 170, Bore Up Bikin Lebih Responsif


Jakarta - Skutik gambot Minerva Sachs GTR 170 ini memiliki spesifikasi yang setingkat diatas pendahulunya Minerva Sachs GTR 150. Akhir tahun lalu, redaksi sempat mencicipi performa Minerva Sachc GTR 170 di sirkuit Sentul dalam sesi first ride.

Nah, kali ini, yuk jajal untuk harian. Kondisi berkendara di sirkuit dan jalanan pasti berbeda kan! 

Desain

Dari bentuknya, siapapun pasti akan terpaku sesaat. Desain bodinya didesain khusus oleh Acerbis untuk dipasarkan di Indonesia. Sasis turbularnya pun membuatnya terlihat kekar.

Sepintas sama dengan sang adik GTR 150, tapi tetap ada bedanya. GTR 170 ini memiliki desain air scoop yang lebih besar ketimbang versi 150. Pastinya agar hembusan angin ke area mesin jadi lebih besar. Bentuk knalpotnya pun dibuat baru.

Selebihnya hampir tak ada yang berbeda. Head lamp tetap pakai projector. Jok berundak, pelek palang lima hingga ban yang dipakai pun sama.


Fitur dan Teknologi

Fitur paling mencolok saat duduk di atas joknya adalah desain speedometer digitalnya. Meski sederhana tapi kelengkapannya cukup lumayan. Ada takometer, speedometer, odometer, ampermeter hingga jam digital.

Sedang mesinnya, masih menggunakan platform yang sama dengan GTR 150. Satu silinder SOHC dengan dua klep. Mesin ini sudah dilengkapi dengan radiator untuk menjaga suhu mesinnya tetap optimal.

Bedanya dengan GTR 150 ada pada diameter pistonnya. GTR 150 pakai 58mm sedang GTR 170 bore up dengan piston 61 mm. Kapasitas mesin yang lebih besar ini pastinya menuntut beberapa penyesuaian pada settingan karburator.


Performa

Kapasitas mesin lebih besar, secara performa pastinya lebih responsif ketimbang GTR 150. Dan hasilnya benar! Putaran bawahnya cukup responsif meski bobot motor ini tergolong berat.

Di ajak ngebut, top speed mentok diangka 125km/jam. Tapi butuh lintasan yang cukup panjang untuk mencapainya. Sayangnya, meski tidak terlalu mengganggu, tapi terasa masih ada getaran saat putaran mesin mulai tinggi.

Handling

Awalnya ragu, apa iya bodinya yang bongsor ini tetap asik dibawa jalan di keramaian kota. Tapi setelah mencobanya sendiri, ternyata tidak ada masalah.

Posisi duduknya tegap, membuat pengedara tetap sigap. Selain itu posisi pijakan kakinya yang menyerupai motor sport malah membuat lebih nyaman dikendarai.

Tapi saat melintasi jalan yang benar-benar macet memang sedikit merepotkan, bodi dan wheel base-nya yang panjang tidak selincah skutik Jepang yang banyak beredar di Indonesia.

Selain itu bobotnya yang cukup berat dan posisi joknya yang tinggi rasanya cukup merepotkan pengendara dengan tinggi badan 165cm. Mungkin karena settingan awalnya untuk biker Eropa yang umumnya memiliki postur tubuh tinggi.

Tapi bila dibandingkan dengan Minerva Sach GTR versi pertama yang masuk ke Indonesia pada Juni 2009 silam, model yang terakhir ini lebih ramah. Jok dibuat lebih tipis tapi tetap empuk dan suspensi belakangnya sedikit lebih rendah.

Meski ada penyesuaian pada suspensi, tapi performanya tetap nyaman. Jalan bergelombang tetap bisa dilibas dengan nyaman. Begitu juga dengan disk brake di kedua rodanya, cukup ampuh membuat skutik ini berhenti seketika.   


Konsumsi Bahan Bakar  

Dicoba dengan simulasi berkendara sehari-hari, melintasi jalanan macet, lengang hingga memaksanya berakselerasi. Minerva Sachs GTR 170 ini masih mampu berjalan hingga 22,4 kilometer dengan satu liter pertamax.

Dengan kapasitas tanki 9 liter, artinya saat tanki penuh pengendaranya bisa bebas berjalan-jalan hingga 200 kilometer lebih. Mantap kan!

Harga

Minerva Sachs GTR 170 dijual dengan harga Rp 19,6 juta. Lebih mahal ketimbang Minerva Sachs GTR 150 yang dilepas Rp 17,6 jutaan.

Di pasaran, GTR 170 hampir tidak punya pesaing. Disandingkan dengan Honda PCX 125 pun, harganya terpaut terlalu jauh. Honda PCX lebih mahal. Dibandingkan dengan skutik Jepang 110-125cc yang banyak beredar di Indonesia pun, harga dan kapasitas mesinnya tidak head to head. (motorplus.otomotifnet.com)

0 comments: